RUBRIK #2 : BERDIKSI CIAMIK, BERMAKNA HYPO-THERAPIC
Hallo! Kembali lagi dalam rangkum ulasan lagu. Kali ini ada sebuah ulasan yang lagunya sangat booming yang terdapat di film yang sangat fantastis pula. Tahu 'kan film NKCTHI? Sebuah film karya Angga Dwimas Sasongko yang diambil dari buku karya Marchella FP? Yang sekarang sangat booming dibicarakan? Yups, ulasan lagu kali ini akan membahas tentang salah satu soundtracknya yang sering muncul di radio lokal, mau tahu lagunya siapa?
Yups! Lagu ini adalah milik Hindia yang berjudul "Secukupnya." Hindia adalah nama panggung yang dipakai oleh vokalis band Feast, Daniel Baskara Putra, atau lebih akrab dipanggil dengan Baskara. Pria kelahiran Jakarta, 22 Februari 1994 ini merupakan lulusan Universitas Indonesia jurusan Ilmu Komunikasi. Mengawali kariernya pada tahun 2014 dan tergabung dalam band rock bernama Feast yang beranggotakan lima orang.
Pada tahun 2018, ia memulai debutnya sebagai penyanyi solo dan menggunakan nama 'Hindia' sebagai nama panggungnya. Hindia mulai terkenal saat ia berhasil dengan lagu "Evaluasi" yang rilis pada tanggal 22 Maret 2019 yang kemudian disusul dengan single "Secukupnya" pada 3 Mei 2019.
Dalam hal ini, kita akan mengulik lirik lagu yang sangat ciamik ini, dengan diksi yang sangat fantastis dan memunculkan banyak persepsi bahwa inilah kehidupan yang sangat nyata. Let's check this my opinion.
Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang?
(Renggang)
Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang di esok hari
Dalam lirik pertama, dapat dijelaskan bahwa kehidupan tak sepenuhnya tenang dan asyik untuk dijalani. Ada saja masalah yang selalu dihadapi, dan terkadang masalah tersebut tidak ditemukan solusi yang tepat, misalnya saja mengorbankan satu keasyikan yang sudah lama tumbuh. Namun, dalam menjalani hidup tanpa masalah hanyalah sebuah kemustahilan bagi manusia, ingat apa kata Tuhan bahwa Tuhan tidak akan memberikan masalah ata ujian yang melampaui batas kemampuan manusianya.
Tubuh yang berpatah hati
Bergantung pada gaji
Berlomba jadi asri
Mengais validasi
Dan aku pun terhadir
Seakan paling mahir
Menenangkan dirimu
Yang merasa terpinggirkan dunia
Dijelaskan bahwa kehidupan membawa kita untuk terus menerus memenuhi kebutuhan yang hakikatnya sudah terpatri dalam dunia ini. Pekerjaan, karir, sekolah, kuliah, keluarga, itulah yang membawa kita pada peningkatan kedewasaan, wawasan, dan tentunya problem and trouble solving. Kita seakan-akan dituntut untuk selalu bersikap dewasa dan berpikir panjang, pada lagu yang bernada beat dan healing ini kita diajak ke dalam kehidupan yang tenang untuk tidak memikirkan hal-hal yang sekiranya jauh dari kemampuan kita.
Tubuh yang patah hati, jiwa-jiwa yang lelah karena mengejar target kepuasan dan kebahagiaan, juga terlalu jenuh dengan pikiran-pikiran yang tak ada batasnya, apa saja dipikirkan tanpa memerhatikan sekitar yang membutuhkannya. Sering terjadi dalam kehidupan bahwa seseorang ketika sudah mulai dewasa akan mementingkan ego dan memikirkan kebutuhannya sendiri tanpa memikirkan yang lainnya.
Coba kita bayangkan ketika kita mengejar gaji atau jabatan yang tinggi, pastinya pemikiran jernih untuk keluarga dan anak-anak akan terkatung-katung, pemikiran jernih untuk kesehatan dirinya pasti akan terlupakan secara perlahan, dan nantinya akan menciptakan masalah yang tak terhitung jumlahnya.
Masalah seperti itu bisa kita bentengi dengan adanya komunikasi yang baik, adanya keharmonisan antar anggota keluarga dan juga kasih sayang yang berlebih untuk anak-anak yang ditinggal ayah dan ibu untuk bekerja. Seperti itulah kehidupan, misteri dan keasyikannya muncul secara tak adil, kita bersandiwara kepada pasangan, kepada anak, kepada keluarga dan kepada siapapun demi menutupi kepedihan kita yang hanya untuk berusaha membahagiakan yang lain. Trouble comes with happiness. Itulah ungkapan yang dilontarkan oleh sahabatku yang juga penyair.
Tak pernah adil
Kita semua gagal
Angkat minumanmu
Bersedih bersama-sama
Sia-sia (Pada akhirnya)
Putus asa (Terekam pedih semua)
Masalahnya (Lebih dari yang)
Secukupnya
Berdiksi ciamik, memang patut kita lontarkan kepada lirik dalam lagu ini. Lagi-lagi penulis lirik ini memberikan makna konotasi yang memungkinkan banyak orang memahami sebaliknya.
Kita semua gagal untuk membahagiakan diri sendiri, kita semua gagal untuk menenangkan diri yang dipenuhi pikiran tak karuan, kita gagal untuk selalu baik dengan jiwa kita demi kebahagiaan mereka. Tetapi, syukurnya kita tak pernah gagal untuk tidak mengeluh selain pada Tuhan.
Angkat minuman untuk perayaan kepedihan kita, dalam pemaknaan sepintas dan umum pasti konotasi tertampil dalam lagu ini. Namun, secara positif merayakan kepedihan memang diperlukan untuk melakukan evaluasi berlebih untuk kehidupan yang lebih baik ke depannya.
Apapun keluhan, kesalahan, kegagalan dan juga problem yang belum tuntas, jangan kita tampilkan dengan kesedihan yang diiringi dengan tangis, ambil sedikit air putih lalu tenangkan pikiran, dan evaluasi dengan mufakat.
Rekam gambar dirimu yang terabadikan bertahun silam
Putra-putri sakit hati
Ayah-ibu sendiri
Komitmen lama mati
Hubungan yang menyepi
Wisata masa lalu
Kau hanya merindu
Mencari pelarian
Dari pengabdian yang terbakar sirna
Mengapur berdebu
Kita memang tak akan pernah terhapus oleh waktu, masa lalu yang indah dan masa dewasa yang lumpuh dan keras membuat kita untuk terus mengalami pesakitan.
Ketika anak-anak sakit hati oleh ayah-ibu yang memperkuat ego dan akhirnya saling berdebat tentang ego masing-masing, secara tak sadar kita akan berpulang ke masa lalu untuk memikirkan keindahan yang selalu ada. Namun, sekuat apapun kita melaju ke belakang, yang kita temukan hanya angan dan kenangan, bukan sebuah kepastian kecuali kita hanya mengambil hikmah untuk memperbaiki kesalahan dan memunculkan keindahan dan kebahagiaan kepada semuanya.
Dalam masalah keluarga yang banyak konflik, ambil langkah ke belakang untuk mengambil residu kebahagiaan, coba kita modifikasi dengan ciamik dan menarik, kemudian melajulah bersama dengan pemikiran matang dan optimis untuk tumbuh bersama di hari depan.
Kita semua gagal
Ambil s'dikit tisu
Bersedihlah secukupnya
Secukupnya ('Kan masih ada)
Penggantinya (Belum waktunya kau bisa)
Menjawabnya (Ah-ah-ah-ah-ah)
Secukupnya
//
Semua yang sirna 'kan kembali lagi
Semua yang sirna 'kan nanti berganti
Namun, semua itu gagal kembali. Gagal dalam arti kita tak sanggup untuk mengalahkan ego masing-masing, tetap saja muncul secara tiba-tiba. Seorang anak yang tak bisa mengerti dan ingin menang sendiri, seorang ayah yang keras kepala tak bisa turun untuk merangkul anak-anak, dan seorang ibu yang hanya bisa menjadi pemenang akan tangisan dan kemarahan mereka.
Semuanya gagal. Semuanya akan membisu ketika waktu akan menjawab, semuanya berdiam diri untuk memikirkan sejenak bahwa kesulitan akan mendatangkan kemudahan, kesedihan akan menghadirkan kebahagiaan yang hakiki, kemurkaan yang meluap bahkan menjadi lebur oleh waktu, dan kunci dari semua itu adalah kesabaran dan komitmen untuk bersama menyelesaikan masalah. Semuanya akan tergantikan dengan kepingan-kepingan hangat, dengan pelukan yang mesra, dengan segala yang kita nantikan, sampai akhirnya kita semua sadar; semuanya akan tergantikan oleh waktu dan kesabaran.
Yups! Lagu ini adalah milik Hindia yang berjudul "Secukupnya." Hindia adalah nama panggung yang dipakai oleh vokalis band Feast, Daniel Baskara Putra, atau lebih akrab dipanggil dengan Baskara. Pria kelahiran Jakarta, 22 Februari 1994 ini merupakan lulusan Universitas Indonesia jurusan Ilmu Komunikasi. Mengawali kariernya pada tahun 2014 dan tergabung dalam band rock bernama Feast yang beranggotakan lima orang.
Pada tahun 2018, ia memulai debutnya sebagai penyanyi solo dan menggunakan nama 'Hindia' sebagai nama panggungnya. Hindia mulai terkenal saat ia berhasil dengan lagu "Evaluasi" yang rilis pada tanggal 22 Maret 2019 yang kemudian disusul dengan single "Secukupnya" pada 3 Mei 2019.
Dalam hal ini, kita akan mengulik lirik lagu yang sangat ciamik ini, dengan diksi yang sangat fantastis dan memunculkan banyak persepsi bahwa inilah kehidupan yang sangat nyata. Let's check this my opinion.
Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang?
(Renggang)
Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang di esok hari
Dalam lirik pertama, dapat dijelaskan bahwa kehidupan tak sepenuhnya tenang dan asyik untuk dijalani. Ada saja masalah yang selalu dihadapi, dan terkadang masalah tersebut tidak ditemukan solusi yang tepat, misalnya saja mengorbankan satu keasyikan yang sudah lama tumbuh. Namun, dalam menjalani hidup tanpa masalah hanyalah sebuah kemustahilan bagi manusia, ingat apa kata Tuhan bahwa Tuhan tidak akan memberikan masalah ata ujian yang melampaui batas kemampuan manusianya.
Tubuh yang berpatah hati
Bergantung pada gaji
Berlomba jadi asri
Mengais validasi
Dan aku pun terhadir
Seakan paling mahir
Menenangkan dirimu
Yang merasa terpinggirkan dunia
Dijelaskan bahwa kehidupan membawa kita untuk terus menerus memenuhi kebutuhan yang hakikatnya sudah terpatri dalam dunia ini. Pekerjaan, karir, sekolah, kuliah, keluarga, itulah yang membawa kita pada peningkatan kedewasaan, wawasan, dan tentunya problem and trouble solving. Kita seakan-akan dituntut untuk selalu bersikap dewasa dan berpikir panjang, pada lagu yang bernada beat dan healing ini kita diajak ke dalam kehidupan yang tenang untuk tidak memikirkan hal-hal yang sekiranya jauh dari kemampuan kita.
Tubuh yang patah hati, jiwa-jiwa yang lelah karena mengejar target kepuasan dan kebahagiaan, juga terlalu jenuh dengan pikiran-pikiran yang tak ada batasnya, apa saja dipikirkan tanpa memerhatikan sekitar yang membutuhkannya. Sering terjadi dalam kehidupan bahwa seseorang ketika sudah mulai dewasa akan mementingkan ego dan memikirkan kebutuhannya sendiri tanpa memikirkan yang lainnya.
Coba kita bayangkan ketika kita mengejar gaji atau jabatan yang tinggi, pastinya pemikiran jernih untuk keluarga dan anak-anak akan terkatung-katung, pemikiran jernih untuk kesehatan dirinya pasti akan terlupakan secara perlahan, dan nantinya akan menciptakan masalah yang tak terhitung jumlahnya.
Masalah seperti itu bisa kita bentengi dengan adanya komunikasi yang baik, adanya keharmonisan antar anggota keluarga dan juga kasih sayang yang berlebih untuk anak-anak yang ditinggal ayah dan ibu untuk bekerja. Seperti itulah kehidupan, misteri dan keasyikannya muncul secara tak adil, kita bersandiwara kepada pasangan, kepada anak, kepada keluarga dan kepada siapapun demi menutupi kepedihan kita yang hanya untuk berusaha membahagiakan yang lain. Trouble comes with happiness. Itulah ungkapan yang dilontarkan oleh sahabatku yang juga penyair.
Tak pernah adil
Kita semua gagal
Angkat minumanmu
Bersedih bersama-sama
Sia-sia (Pada akhirnya)
Putus asa (Terekam pedih semua)
Masalahnya (Lebih dari yang)
Secukupnya
Berdiksi ciamik, memang patut kita lontarkan kepada lirik dalam lagu ini. Lagi-lagi penulis lirik ini memberikan makna konotasi yang memungkinkan banyak orang memahami sebaliknya.
Kita semua gagal untuk membahagiakan diri sendiri, kita semua gagal untuk menenangkan diri yang dipenuhi pikiran tak karuan, kita gagal untuk selalu baik dengan jiwa kita demi kebahagiaan mereka. Tetapi, syukurnya kita tak pernah gagal untuk tidak mengeluh selain pada Tuhan.
Angkat minuman untuk perayaan kepedihan kita, dalam pemaknaan sepintas dan umum pasti konotasi tertampil dalam lagu ini. Namun, secara positif merayakan kepedihan memang diperlukan untuk melakukan evaluasi berlebih untuk kehidupan yang lebih baik ke depannya.
Apapun keluhan, kesalahan, kegagalan dan juga problem yang belum tuntas, jangan kita tampilkan dengan kesedihan yang diiringi dengan tangis, ambil sedikit air putih lalu tenangkan pikiran, dan evaluasi dengan mufakat.
Rekam gambar dirimu yang terabadikan bertahun silam
Putra-putri sakit hati
Ayah-ibu sendiri
Komitmen lama mati
Hubungan yang menyepi
Wisata masa lalu
Kau hanya merindu
Mencari pelarian
Dari pengabdian yang terbakar sirna
Mengapur berdebu
Kita memang tak akan pernah terhapus oleh waktu, masa lalu yang indah dan masa dewasa yang lumpuh dan keras membuat kita untuk terus mengalami pesakitan.
Ketika anak-anak sakit hati oleh ayah-ibu yang memperkuat ego dan akhirnya saling berdebat tentang ego masing-masing, secara tak sadar kita akan berpulang ke masa lalu untuk memikirkan keindahan yang selalu ada. Namun, sekuat apapun kita melaju ke belakang, yang kita temukan hanya angan dan kenangan, bukan sebuah kepastian kecuali kita hanya mengambil hikmah untuk memperbaiki kesalahan dan memunculkan keindahan dan kebahagiaan kepada semuanya.
Dalam masalah keluarga yang banyak konflik, ambil langkah ke belakang untuk mengambil residu kebahagiaan, coba kita modifikasi dengan ciamik dan menarik, kemudian melajulah bersama dengan pemikiran matang dan optimis untuk tumbuh bersama di hari depan.
Kita semua gagal
Ambil s'dikit tisu
Bersedihlah secukupnya
Secukupnya ('Kan masih ada)
Penggantinya (Belum waktunya kau bisa)
Menjawabnya (Ah-ah-ah-ah-ah)
Secukupnya
//
Semua yang sirna 'kan kembali lagi
Semua yang sirna 'kan nanti berganti
Namun, semua itu gagal kembali. Gagal dalam arti kita tak sanggup untuk mengalahkan ego masing-masing, tetap saja muncul secara tiba-tiba. Seorang anak yang tak bisa mengerti dan ingin menang sendiri, seorang ayah yang keras kepala tak bisa turun untuk merangkul anak-anak, dan seorang ibu yang hanya bisa menjadi pemenang akan tangisan dan kemarahan mereka.
Semuanya gagal. Semuanya akan membisu ketika waktu akan menjawab, semuanya berdiam diri untuk memikirkan sejenak bahwa kesulitan akan mendatangkan kemudahan, kesedihan akan menghadirkan kebahagiaan yang hakiki, kemurkaan yang meluap bahkan menjadi lebur oleh waktu, dan kunci dari semua itu adalah kesabaran dan komitmen untuk bersama menyelesaikan masalah. Semuanya akan tergantikan dengan kepingan-kepingan hangat, dengan pelukan yang mesra, dengan segala yang kita nantikan, sampai akhirnya kita semua sadar; semuanya akan tergantikan oleh waktu dan kesabaran.
Dalam kehidupan yang serba ketergantungan dan melelahkan ini, kita dihadirkan oleh lagu yang sangat menyentuh dan menambah semangat bahwa kehidupan bukan berputar dalam waktu satu kali, tetapi berkali-kali yang disebut dengan hari, dan mengajarkan pada kita bahwa masihi ada hari esok untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri untuk hari ke depan. 'Planning is more important than action, but action is nothing without plan.'Yeah, sekadar ulasan ini semoga dapat menginspirasi kita dan juga dapat memotivasi untuk kehidupan yang sangat menarik. Teruslah semangat menjalani hidup, kurangi kesedihan, perbanyak syukur dan perbaikan untuk hari menjelang.


Comments
Post a Comment